Kamis, 20 April 2017

SMPN 3 Jatibarang Bergema, Siap Cetak Siswa Cerdas Berkarakter

Penerapan penguatan pendidikan karakter di sekolah akan berjalan dengan baik bila kepala sekolah sebagai pemimpin mampu menjadi pemimpin yang dapat dipercaya dan visioner. Menjadi orang yang dapat dipercaya berarti Kepala Sekolah merupakan sosok berintegritas, mampu menjadi manajer yang berfokus pada   peningkatan kualitas pembelajaran melalui pembentukan karakter. Visioner berarti kepala sekolah memiliki visi jauh ke depan tentang kekhasan, keunikan, dan kualitas sekolah (school branding) yang akan ia bangun. Kemampuan manajerial kepala sekolah untuk menggali potensi lingkungan sebagai sumber belajar dan mengembangkan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem pendidikan yang ada untuk mendukung program sekolah sangat diperlukan.

SMP Negeri 3 Jatibarang Kabupaten Indramayu dibawah kepemimpinan Ibu Repelitasari, S.Pd., MM., siap untuk mengimplementasikan gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan ingin mewujudkan nilai-nilai utama pendidikan karakter yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas menjadi budaya sekolah. Untuk itu Gerakan PPK di sekolah ini diawali dengan sosialisasi kepada seluruh warga sekolah dan melaksanakan asesmen awal untuk mempelajari kondisi awal dan memastikan taraf kesiapan sekolah dalam menyusun perencanaan dan pelaksanaan gerakan PPK.

Berdasarkan hasil asesmen awal, nilai utama yang akan menjadi fokus pengembangan budaya dan identitas sekolah di SMPN 3 Jatibarang adalah karakter religius. Alasan karakter religius menjadi prioritas adalah karena nilai karakter ini meliputi tiga dimensi relasi sekaligus, yaitu hubungan individu dengan tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan alam semesta (lingkungan). Nilai karakter religius ini ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan sehingga mudah untuk menjalin/mengembangkan nilai-nilai yang lain. Karakter religius akan mendasari seluruh kegiatan, program, dan pengembangan karakter di sekolah.

Selain nilai utama yang menjadi fokus pengembangan karakter, dirumuskan pula sejumlah nilai pendukung. Nilai-nilai pendukung yang ditetapkan yaitu bersih, edukatif,  generasi unggul, dan mandiri. Jalinan antar nilai utama dan nilai pendukung tertuang dalam visi sekolah yaitu “Terwujudnya warga SMPN 3 Jatibarang yang Bergema (Bersih, Edukatif, Religius, Generasi Unggul dan Mandiri)”. Seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat  mengimplementasikan visi sekolah melalui kegiatan pembiasaan sehingga menjadi sebuah budaya di sekolah dalam membentuk karakter warga sekolah.

Berdasarkan visi dan misi yang telah ditetapkan, pemangku kepentingan di SMPN 3 Jatibarang menyepakati bahwa branding sekolah adalah “sekolah sehat berkualitas”. Sehat mengandung makna yang luas yaitu SMPN 3 Jatibarang harus memiliki sekolah dengan lingkungan yang bersih dan sehat, warga sekolah memiliki kualitas kesehatan jasmani dan rohani, serta mewujudkannya sebagi pribadi yang  memiliki sikap dan perilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Berkualitas artinya mampu menunjukkan pribadi yang unggul dalam sikap, perilaku dan prestasi yang merupakan pengejawantahan dari hasil olah raga, olah rasa, olah karsa, dan olah pikir. SMPN 3 Jatibarang  siap mencetak generasi yang cerdas dan berkarakter dengan moto “Berani berubah menjadi lebih baik”.



Selasa, 18 April 2017

190 Kepala SMP Kabupaten Indramayu Mengikuti Workshop Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter

Workshop Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) untuk para kepala SMP negeri dan swasta Kabupaten Indramayu telah dilaksanakan dengan sukses pada tanggal 3 s.d. 8 April 2017. Workshop ini diikuti oleh 190 orang kepala SMP negeri dan swasta Kabupaten Indramayu yang didanai secara mandiri. Kegiatan workhop dilaksanakan secara marathon di sekertariat sektor 01 s.d. 05.

Workshop PPK ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan para pendidik  di Kabupaten Indramayu dimana akhir-akhir ini makin marak terjadi tawuran di kalangan pelajar, penyalah gunaan obat-obat terlarang, dan penyalahgunaan media sosial oleh para siswa. Kepala dinas pendidikan Kabupaten Indramayu Dr. H. M. Ali Hasan, M.Pd. segera merespon hal tersebut, apalagi Kabupaten Indramayu memiliki dua orang fasilitator nasional gerakan PPK, yaitu Wati Rosanah, M.Pd. dan Sri Sunarti, M.Pd. Kegiatan workshop Gerakan PPK dijadikan sebagai kegiatan prioritas untuk segera dilaksanakan. Kegiatan workshop PPK juga dimaksudkan untuk turut serta mensukseskan pesan salah satu program nawacita presiden Republik Indonesia yaitu memperkuat pendidikan karakter bangsa.


Kepala dinas pendidikan Kabupaten Indramayu Dr. H. M. Ali Hasan, M.Pd. membuka acara sekaligus menjadi salah satu pemateri. Dalam sambutannya beliau menghendaki adanya produk berupa program-program sekolah yang mendukung percepatan gerakan penguatan pendidikan karakter. Tujuan workshop ini adalah agar para kepala sekolah mampu menyusun program-program sekolah yang mengintegrasikan 5 nilai utama pendidikan karakter, yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas sehingga menjadi budaya sekolah untuk menghasilkan peserta didik yang cerdas dan berkarakter serta memiliki keterampilan abad 21 yaitu berpikir kritis, kreatif, memiliki kemampuan berkolaborasi, dan mampu berkomunikasi dengan baik.

Keberhasilan pendidikan harus didukung oleh partisipasi keluarga dan masyarakat. Tetapi sekolah sebagai salah satu embaga pendidikan merupakan sarana strategis bagi pembentukan karakter karena lebih kurang 6 jam para siswa berada di sekolah bersama para guru. Kiranya ada banyak kesempatan bagi para pendidik untuk turut menguatkan pendidikan karakter. Workshop Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter bagi seluruh kepala SMP negeri swasta Kabupaten Indramayu diharapkan mampu menghasilkan program-program sekolah yang mengintegrasikan nilai-nilai utama karakter melalui ketauladanan dan dilaksanakan secara massif sehingga para siswa di kabupaten indramayu memiliki bekal keterampilan abad 21.

Jumat, 11 September 2015

Gambaran Umum Materi Pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) SMP Program Diseminasi USAID Prioritas Kabupaten Indramayu Tahun Anggaran 2015



USAID (united States Agency International Development) PRIORITAS (Prioritizing Reform, Innovation and Opportunities for Reaching Indonesia’s Teachers, Administrators and Students) merupakan program yang didanai oleh USAID bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dilaksanakan untuk mendukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama dalam meningkatkan akses pendidikan dasar yang bermutu. Sasaran program pengembangan kapasitas ini adalah guru dan dosen lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK), kepala sekolah, komite sekolah, serta pengawas dan staf dinas pendidikan terkait di kabupaten terpilih di tujuh provinsi mitra PRIORITAS, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Pelatihan bagi dosen dilaksanakan melalui kerja sama dengan sejumlah LPTK terpilih untuk pengembangan peran LPTK sebagai penyedia layanan untuk pendidikan dalam jabatan. 

Program-program USAID telah direkomendasikan oleh kemendikbud untuk dilaksanakan di daerah-daerah non mitra, yang disebut dengan program diseminasi. Beberapa produk pelatihan dari USAID Prioritas telah dipakai oleh kemendikbud untuk diterapkan di sekolah dan LPTK seluruh Indonesia. Program tersebut diantaranya aplikasi pelaporan pertanggungjawaban penggunaan dana BOS (Alpeka), materi Pendidikan profesi guru (PPG), dan pembelajaran aktif, dan budaya membaca. Program diseminasi Pembelajaran dan Praktik yang Baik merupakan program kerja sama pemerintah daerah Kabupaten Indramayu dengan USAID Prioritas. Program ini merupakan komitmen Bupati Indramayu untuk meningkatkan mutu pendidikan di bidang pembelajaran dan manajemen. Sebagai bukti komitmen tersebut, pemerintah daerah Indramayu mengalokasikan dana khusus untuk program ini dalam APBD tahun 2015. Diseminasi Pembelajaran dan Praktik yang Baik  terdiri atas pelatihan kelompok mata pelajaran dan manajemen berbasis sekolah. Pelatihan pembelajaran diikuti oleh guru-guru dari 5 mata pelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA dan IPS. Sedangkan pelatihan manajemen diikuti oleh Kepala Sekolah.

Pelatihan MBS dimaksudkan agar kepala sekolah memahami manajemen yang tepat untuk dapat mendukung proses pembelajaran yang baik. Dukungan yang diharapkan diantaranya adalah sekolah dapat mengakomodasi penerapan hasil-hasil yang didapat oleh guru dalam pelatihan pembelajaran untuk dipraktikkan dalam kelas. Selain itu dukungan dana yang cukup sangat dibutuhkan, oleh karena itu melalui pelatihan MBS kepala sekolah diharapkan dapat menganggarkan dana yang cukup dalam rencana kerja dan anggaran sekolah (RKAS).

Materi-materi dalam diseminasi pelatihan MBS adalah sebagai berikut:
1.    Gambaran Umum Monitoring Program USAID PRIORITAS. Dalam unit ini peserta akan mencermati indikator keberhasilan program Praktik yang Baik USAID PRIORITAS, menilai seberapa jauh materi-materi pelatihan sampai dengan saat ini (pelatihan I dan II) sesuai dengan indikator tersebut, dan mencermati data hasil monitoring program untuk tahun 2012, 2013, dan 2014. Selanjutnya peserta akan berdiskusi tentang manfaat monitoring suatu program dan untuk apa saja data hasil monitoring tersebut dapat dimanfaatkan. Pembahasan lebih difokuskan pada indikator yang terkait dengan manajemen sekolah.
2.   Kaji Ulang Kemajuan Sekolah. Dalam unit ini, peserta akan menyampaikan perkembangan sekolah mereka, terutama sebagai akibat dari pelatihan sebelumnya dan pendampingan, yaitu keberhasilan dan kekurangberhasilan. Kemudian mereka akan mengidentifikasi faktor-faktor pendukung keberhasilan dan faktor-faktor yang menyebabkan kekurangberhasilan. Setelah itu, peserta akan merumuskan pemecahan agar hambatan yang dialami selama ini dapat diatasi sehingga hasil pelatihan dapat diterapkan lebih optimal.
3.     Pembahasan RTL Pelatihan Pembelajaran. Peserta akan membahas kegiatan-kegiatan yang direncanakan guru untuk diterapkan di sekolah setelah guru  pengikuti pelatihan pembelajaran. Setelah itu, mereka akan mengidentifikasi sumber daya, dana, dan tindakan yang dapat mendukung pelaksanaan rencana tersebut. Selanjutnya, mereka merumuskan tindakan yang perlu dilakukan oleh masing-masing pemangku kewajiban agar hasil pelatihan dapat diterapkan dengan baik.
4.   Pengelolaan Program Budaya Baca. Dalam unit ini, peserta akan mengidentifikasi kegiatan-kegiatan terkait dengan program budaya baca di sekolah mereka yang dapat berjalan dengan baik dan kegiatan yang belum berjalan dengan baik. Kemudian mereka merumuskan kegiatan-kegiatan untuk memperkaya/mendukung kegiatan budaya baca baik di sekolah maupun di rumah. Selanjutnya, mereka merumuskan tindakan nyata yang perlu dilakukan kepala sekolah, guru, dan komite sekolah dalam mengelola program budaya baca, baik di sekolah maupun di rumah. 
5.   Keterampilan Menyimak dalam MBS. Dalam unit ini akan dibahas dan disimulasikan ‘Bagaimana Mendengar secara Aktif’. Keterampilan ini perlu dikuasai oleh seorang kepala sekolah sebagai pemimpin di sekolahnya atau oleh seorang guru dalam menangkap keinginan siswa-siswanya. Demikian juga antara komite sekolah dan sekolah. Mereka perlu memiliki keterampilan mendengarkan yang baik. Pesan yang disampaikan oleh orang lain dapat dimengerti dengan salah bila cara mendengarkan tidak efektif. 
6.       Peningkatan Mutu Pembelajaran – Peran Kepsek dan Pengawas. Kiat melakukan supervisi informal dan supervisi klinis di kelas akan dibahas dalam unit ini. Selain itu, akan dibahas mekanisme penilaian kinerja guru (PKG) dan cara memanfaatkan hasil PKG untuk mengembangkan profesionalisme guru. Dibahas pula berbagai cara membantu guru meningkatkan kinerja mereka. Pembahasan akan berfokus pada apa saja yang dapat dan perlu dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas untuk meningkatkan mutu pembelajaran. 
7.     Peningkatan Mutu Pembelajaran – Peran Guru. Guru perlu memahami komponen kompetensi guru dalam supervisi pembelajaran. Hal ini akan dibahas dalam unit ini. Terkait kompetensi, peserta akan merancang kegiatan MGMP yang dapat meningkatkan kompetensi guru dan mengembangkan keprofesian guru secara berkelanjutan. Selain itu, dibahas pula berbagai cara membantu guru meningkatkan kinerja mereka. Pembahasan akan berfokus pada apa saja yang dapat dan perlu dilakukan oleh guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran. 
8.      Peningkatan Mutu Pembelajaran – Peran Komite Sekolah. Peserta akan mengidentifikasi kondisi komite sekolah/madrasah terkait dukungan mereka terhadap peningkatan mutu pembelajaran di sekolah. Kemudian mereka merumuskan usulan perbaikan atau peningkatan kondisi tersebut dan mengidentifikasi bentuk partisipasi secara lebih luas dari orang tua, masyarakat, dan/atau komite kepada sekolah. Pembahasan akan berfokus pada apa saja yang dapat dan perlu dilakukan oleh komite sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran.  
9.       Berbagi Hasil Diskusi. Hasil diskusi dan pembahasan oleh masing-masing peran (guru, kepala sekolah, pengawas, dan komite sekolah) pada unit 12B1, 12B2, dan 12B3 dikomunikasikan oleh dan kepada masing-masing, dalam kegiatan pada unit ini, sehingga semua saling mengetahui. Dengan demikian, peran atau kegiatan mereka tidak saling tumpang tindih yang tidak perlu. 
10.   Peningkatan Mutu Sekolah – Peran Masing-masing. Dalam unit ini akan disimulasikan apa saja tindakan yang DIHARAPKAN dan TIDAK DIHARAPKAN dilakukan oleh masing-masing mitra kerja (kepala sekolah, guru, pengawas, dan komite sekolah). Dengan saling mengetahui tindakan tersebut, diharapkan masing-masing saling berhati-hati dalam melakukan tindakan. Akibatnya, akan timbul kekompakan dari semua pihak dalam peningkatan mutu sekolah. 
11.   Rencana Tindak Lanjut Sekolah. Peserta akan merumuskan rencana tindak lanjut tentang apa yang akan dilakukan sekolah sebagai institusi agar hasil-hasil pelatihan, baik pembelajaran maupun manajemen sekolah, diterapkan di sekolah.   

Melalui pelatihan ini diharapkan kepala sekolah dapat menyusun program-program yang efektif dan efisien serta mengalokasikan dana yang cukup untuk mempercepat peningkatan mutu pembelajaran. Pelatihan ini didisain untuk mengaktifkan peserta dan menggali potensi masing-masing sesuai dengan kondisi sekolahnya dan diharapkan peserta dapat mengikutinya secara penuh.

Sabtu, 29 Agustus 2015

Pengelolaan Pembelajaran yang Efektif, Tentukan Keberhasilan Pembelajaran


Pengelolaan pembelajaran merupakan  pengaturan keseluruhan proses pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengorganisasian, pengendalian, sampai penilaian. Pengelolaan pembelajaran yang efektif merupakan salah satu materi yang disampaikan pada kegiatan diseminasi Pelatihan Pembelajaran dan Praktik yang Baik II untuk guru-guru SMP sektor 01 dan 02 di Kabupaten Indramayu. Kegiatan ini diikuti oleh 91 orang guru dari lima mata pelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA dan IPS. Kegiatan diseminasi ini merupakan program kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Indramayu dengan USAID Prioritas. 

Pengelolaan pembelajaran yang  efektif Pada modul II,  berfokus pada tiga hal yaitu, 1) Pengelolaan Kelas/Siswa, 2) Strategi Pembelajaran, dan 3) Pemberian tugas yang menantang. Materi Pengelolaan kelas yang efektif menggali kembali kemampuan guru untuk menata kelas/siswa selama proses pembelajaran. Seorang guru harus mampu mengelola pembelajaran secara efektif, penggunaan strategi pembelajaran yang tepat, dan pemberian tugas yang menantang. Untuk memberikan pemahaman yang lebih pada pengelolaan pembelajaran yang efektif, guru perlu dilatih dan diberi contoh tentang bagaimana mengelola pembelajaran agar efektif. Guru diajak untuk memahami dan merasakan apa, dan bagaimana pengelolaan pembelajaran yang efektif. Kelas pelatihan didisain agar peserta merasakan suasana  pengelolaan kelas yang efektif. Selain itu peserta pelatihan diberi contoh tentang pembelajaran yang efektif melalui pemutaran video pembelajaran, dan mempraktikkan hasil pelatihan tentang pengelolalaan kelas pada kelas nyata. Praktik pembelajaran di kelas nyata merupakan hal yang penting dilakukan supaya guru mampu mencatat kelebihan dan kekurangan tentang teori pengelolaan pembelajaran efektif ketika diterapkan di kelas nyata.
 
1)      Pengelolaan kelas/siswa yang efektif terdiri atas:
a.       Pembelajaran klasikal dilakukan di awal pembelajaran dalam apersepsi, pemberian tujuan, dan penugasan, di bagian akhir dalam  perumusan kesimpulan/rangkuman dan pemberian konfirmasi.
b.      Pembelajaran Kelompok/berpasangan dilaksanakan untuk kerja kooperatif (misalnya, diskusi pemecahan masalah bersama, berbagi informasi, tutor sebaya).
c.       Pembelajaran Individual dilakukan pada bagian inti berupa pemberian tugas kreatif sesuai potensi individu siswa. Pengelolaan individu juga dilakukan pada proses penilaian pencapaian kompetensi.
2)      Strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran yang harus dipilih oleh guru adalah strategi pembelajaran yang mengaktifkan semua siswa, menumbuhkan kreativitas, berpikir, berbuat, efektif mencapai tujuan, dan menyenangkan (tidak membuat anak stres/tertekan).
3)      Pemberian tugas yang bermakna, adalah tugas yang memotivasi dan menantang untuk belajar, memberi ruang setiap siswa untuk menggali informasi dan menuangkan gagasan sebagai bentuk aktualisasi pemikiran, mendorong siswa menghasilkan karya yang bervariasi (siswa berani menampilkan karyanya dalam berbagai bentuk) sesuai tujuan dan kompetensi yang ditetapkan, kualitas tugas sesuai dengan bentuk pengelolaan kelas, siswa difasilitasi untuk bertanggungjawab terhadap pencapaian kompetensi.
Pengelolaan pembelajaran yang efektif ternyata merupakan hal yang cukup sulit dipraktikkan dalam kelas. Hal ini terlihat ketika para peserta pelatihan menerapkannya pada di kelas nyata. Kemungkinan disebabkan karena guru belum terbiasa melaksanakan pengelolaan pembelajaran yang efektif. Guru harus membiasakan penerapan pengelolaan pembelajaran yang efektif.  Kemampuan pengelolaan pembelajaran secara efektif akan muncul jika seorang guru memahami hal-hal berikut:
1.       Memahami tuntutan kompetensi pada kompetensi dasar;
2.       Menyusun  langkah pembelajaran yang sesuai dengan  tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan;
3.       Menerapkan variasi pengelolaan siswa dalam pembelajaran (klasikal, kelompok, dan individu) sesuai dengan langkah pembelajaran yang telah ditetapkan;
4.       Menentukan strategi pembelajaran yang tepat;
5.       Memberikan tugas yang menantang, yaitu tugas yang mampu mendorong siswa untuk berpikir dan melakukan sesuatu untuk memecahkan masalah.

Hal-hal yang tersebut di atas dicantumkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Perencanaan pembelajaran yang matang akan menciptakan proses pembelajaran yang terarah untuk mencapai tujuan pembelajaran. “ Hasil pelatihan tentang pengelolaan kelas yang efektif akan saya terapkan di kelas, karena sesuatu hal yang menarik” ujar Yuyun Yuningsih salah seorang peserta pelatihan. Untuk dapat mengelola pembelajaran secara efektif perlu pembiasaan, dan pendampingan.



 
 

BPJS Untuk Meningkatkan Kompetensi Guru Menyusun RPP Berdiferensiasi

Oleh: Wati Rosanah, M. Pd.  Pengawas SMP Kabupaten Indramayu  Email: watirosanah44@dinas.belajar.id  BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Bela...